Ahok Menjadi Gubernur, Bukti Aqidah, Moral dan Politik Umat Islam Bangkrut?

Demikian judul berita provokatif dari situs VOA-Islam. Seorang muslim jadi tergerak untuk membahasnya di milis internal ISNET, yaitu Bpk. Laurel Heydir.

Terlampir adalah tulisan beliau yang aslinya diposting di milis mus-lim@, diposting disini dengan seizin beliau :

 


JAKARTA (voa-islam.com) – Inilah sepanjang sejarah Jakarta, pertamakali, gubernurnya dari minoritas Kristen. Sejak Jakarta atau Jayakarta dibebaskan dari penjajah Portugis oleh Fatahillah, tahun 1527 M.

Sekarang, Ahok yang beragama Kristen menjadi gubernur DKI. Mulanya Ahok hanya dompleng Jokowi. Jokowi terpilih menjadi gubernur, dan sekarang menjadi presiden.

SALAH!

Ø Gubernur Jakarta tahun 1964-1965, Hendrik Hermanus Joel Ngantung (Henk Ngantung), lahir di Manado dan beragama KATOLIK ROMA.

Ø Betul Fatahillah (alias Faddillah Khan alias Faletehan alias Syarif Hidayatullah, menantu Sunan Gunung Jati) sebagai Panglima Pasukan Cirebon yang bersekutu dengan Demak berhasil menguasai Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada tanggal 22 Juni tahun 1527 – yang kemudian diganti namanya menjadi Jayakarta. Tapi, penguasaan itu tidak kontinum karena sejak Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618-1623) Belanda, per 30 Mei 1619 Jayakarta diserang dan ditaklukkan Belanda – yang kemudian mengubahnya menjadi Batavia (sebagai nama yang digunakan untuk masa lebih dari 300 tahun hingga Belanda menyerah kepada Balatentara Jepang di Kalijati, Subang, Jawa Barat pada tanggal 9 Maret 1942). Jadi, KELIRU jika menganggap Jakarta daerah merdeka sejak dikuasai oleh Fatahillah pada tahun 1527. Lebih keliru lagi kalau menganggap jabatan Gubernur Jakarta adalah sejak tahun 1527. Gubernur Jakarta – dulu sebutannya Walikota Jakarta – pertama adalah Suwiryo (1945-1947).

 


 

Dengan Jokowi menjadi presiden, maka Ahok menjadi gubernur DKI. Ahok dilantik oleh Jokowi di Istana. Ini menjadi preseden baru. Betapa sekarang Ahok mempunyai legitimasi politik, sesudah dilantik sebagai gubernur DKI.

Ø FYI: Ahok dilantik oleh Presiden (Joko Widodo) di istana adalah sesuai dengan aturan Pasal 163 ayat 1 Perpu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota. Ahok adalah gubernur kedua yang dilantik di istana, sebelumnya Ali Sadikin juga dilantik di istana (oleh Presiden Sukarno)

 


 

Ahok menjadi gubernur baru di DKI ini, hanya menjadi fakta atau bukti, bahwa Muslim di DKI sudah bangkrut secara aqidah, moral dan politik. Logikanya kalau Muslim di DKI, itu aqidahnya benar, moralnya bersih, dan berpolitik benar, tidak akan lahir pemimpin di DKI model Ahok.

Ø Pada Pemilu Gubernur DKI Jakarta tahun 2012, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah usulan Prabowo Subianto/Gerindra yang diusung sebagai calon Wakil Gubernur pendamping Jokowi/PDIP sebagai calon Cubernur DKI.

Ø BETUL bahwa warga DKI Jakarta memberikan suara kepada pasangan Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tapi, asal menuduh warga DKI bangkrut aqidah dan moralnya itu jelas NGAWUR!

Ø Pertama, ada hukum kausalitas – sebab-akibat … Kalau warga DKI Jakarta pada akhirnya kini memberikan suara kepada pasangan Jokowi-Ahok bisa jadi itu lantaran sederet gubernur Muslim yang selama ini sudah diberi kepercayaan mengelola DKI ternyata TIDAK memenuhi hasrat warga bagi pelayanan publik yang baik.

Ø Kedua, warga DKI sudah bosan melihat gaya pejabat DKI (juga anggota DPRD DKI) yang tidak becus kerjanya dan cuma pamer harta saja – kalau ditelusuri asal-muasal harta-bendanya jangan-jangan adalah hasil korupsi berjama’ah.

Ø Sehingga, syukur alhamdulillah, warga DKI saat ini tidak lagi tertipu oleh para politikus yang mengatasnamakan Islam tapi sesungguhnya hanya mengejar jabatan-jabatan publik saja.

 


 

Ahok bukan hanya minoritas Kristen, tapi belum ada rekord (catatan) yang membuktikan tentang prestasi Ahok, selama menjadi Bupati di Belitung.

Ø Mari kita awasi bersama pengelolaan DKI ke depan …

Ø Konon berprasangka buruk itu dilarang dalam Islam … sebaiknya Redaktur VOAI memberikan contoh berperilaku hanief …

 


 

Bukti aqidah Muslim di DKI bangkrut, sejak semula, sudah bisa diprediksi, kalau Jokowi menjadi gubernur, Ahok wakilnya, dan sudah ada tanda-tanda bahwa Jokowi akan hengkang dari jabatannya sebagai gubernur.

Peristiwa itu benar terjadi. Seperti Jokowi yang menjadi walikota Solo, belum selesai masa jabatannya, dia tinggalkan jabatannya dan berebut kekuasaan di DKI.

Tak lama berselang. Jokowi yang belum genap dua tahun menjadi gubernur DKI, sudah ‘jumping’ (lompat) ikut pemilihan presiden. Jokowi menang. Sekarang Ahok menjadi gubernur DKI, menggantikan Jokowi.

Seperti main catur. Tahapan-tahapan yang dilampaui begitu jelas, dan didapatkannya dengan mudah. Sebuah skenario politik yang penuk dengan ‘trik’ (tipuan), dijalankan secara sistematis, dan berhasil membuat semua rakyat terperangah.

Ø Sisipan di atas tentang Jokowi sebaiknya ditulis dalam topik tersendiri yang khusus membahas tentang Jokowi – karena topik tulisan ini kan tentang Ahok, maka fokus saja pada Ahok.

Ø Tidak selesainya Jokowi dari jabatan (kedua) Wali Kota Solo, kemudian Gubernur DKI, karena terpilihnya beliau sebagai Presiden RI itu semua menunjukkan kehendak rakyat.

Ø Menyatakan bahwa kemenangan itu diperoleh dengan mudah melalui ‘trick’ yang diartikan ‘tipuan,’ itu mengabaikan kenyataan. Justru sederet ‘fitnah’ menerpa Jokowi, semisal: dibilang non-Muslim, sebagai keturunan Cina, PKI … sumbernya adalah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam. Hingga kini saya tidak mendengar adanya permintaan maaf secara terbuka atas kekeliruan itu – kalau semua tuduhan yang dulu dilontarkan itu merupakan kekeliruan … Otherwise, memang diniati untuk memfitnah & menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan politik …

 


 

Semua itu, hanya berawal dari kesalahan Muslim di DKI, salah memilih. Akibat aqidah yang sudah lemah. Tidak memilik lagi sikap ‘baro’ (menolak) terhadap orang ‘kafir’ sebagai pemimpin.

Memilih Jokowi-Ahok, saat pemilihan gubernur DKI, itu artinya hanyalah menunjukan sikap ridha di pimpin oleh Ahok yang notabene yang beragama Kristen. Ada larangan jangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, dan bahkan menjadikan teman saja dilarang oleh al-Qur’an (QS : al-Maidah : 51).

Ø Politikus kalau sudah kesurupan syahwat berkuasa memang nauzubillah min zalik … yang bilang gubernur, atau bahkan presiden, itu ‘pemimpin ummat’ siapa … ??? Mereka itu ‘pelayan’ masyarakat … kerja mereka adalah ‘melayani warga’ … Pemegang kedaulatan di negeri ini berdasarkan Konsititusi adalah rakyat, kalau di perusahaan posisinya sama dengan Komisaris … yang mengangkat Direksi yang ditunjuk berdasarkan ‘kecapakapan’ yang bersangkutan dalam mengelola perusahaan … Kan hebat tuh … warga DKI yang mayoritas Muslim bisa tenang-tenang melihat Gubernur DKI yang katanya ‘kafir’ itu bekerja jungkir-balik memperbaiki pelayanan publik di Jakarta … Kan cerdas tuhhh …

Ø Azan pada lima waktu shalat di Jakarta tetap berkumandang … masjid waktu Jum’atan rata-rata dipenuhi jama’ah … pengajian jalan … gak ada perubahan aqidah gara-gara Ahok jadi Gubernur DKI … [malah dengar-dengar justeru Ahok yang akan berubah aqidah – ke Islam … siapa tahu … kalau beliau memperoleh hidayah … Yang musti dicatat bahwa hidayah itu datangnya dari Allah swt bukan dari VOAI …]

 


 

 

 

 

 

Masih ditambah kebijakan Jokowi yang katanya pro-rakyat dengan menaikan BBM, di tengah harga minyak dunia turun tinggal $ 74 dollar/perbarel. Jokowi dan Ahok yang diimpikan rakyat hanya membuat musibah bagi rakyat.

Ø Ini lagi …. Ya ampun … apa urusan Ahok dengan kenaikan harga BBM???

Ø Istighfar Bro …

 


 

Sejarahnya, Jakarta atau Jayakarta itu, dibebaskan oleh seorang mujahid bernaman Fatahillah dengan tetesan darah dari tangan penjajah Salibis Eropa, Portugis. Jakarta atau Jayakarta menjadi hunian beranak-pinak keluarga Muslim. Sepanjang sejarah. Dengan budaya Islamnya.

Ø Cerita tentang Jakarta sudah disinggung di atas … belajar lebih rajin supaya tidak keliru kutip lagi ya …

 


 

Tapi, tanah tumpah darah yang diperjuangkan Fatahillah itu, sekarang berada di tangan Ahok, yang tidak pernah ikut memperjuangkan pembebasan Jakarta atau Jayakarta dari penjajah Eropa.

Ø Ha3 … kayak Ente2 itu ikut berjuang dengan Fatahillah aja …???

Ø Ini penulisnya sadar gak sih …? Gak lagi fly kan …???

 


 

Sekarang di DKI Jakarta, Muslim terus tergerogoti masa depannya, dan secara demografis (kependudukan), sudah mulai tergeser. Mulai dari Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, sampai Tengerang, penduduknya sudah berubah komposisinya. Bukan lagi mayoritas Muslim, tapi golongan Cina.

Mereka menggeser kaum pribumi dan Muslim. Mereka menguasai daerah-daerah yang sangat strategis,dan membangun ‘enclave’ (kantong) yang diperuntukan bagi golongan Cina.

Bayangkan, tujuh bank terbesar di Indonesia membiayai bisnis properti miliki konglomerat Cina. Lihat daerah Utara, semisal mulai dari Kelapa Gading, Pantai Indah Kapok, Bumi Serpong Damai (BSD), dan lainnya, sudah menjadi sebuah ‘enclave’ Pencinan. Kaum pribumi terusir dari kampung halaman mereka, dan pergi ke wilayah pinggiran kota.

Ø Di milis ini ada petinggi BPS, Dr. Sasmito Wibowo … mungkin bisa memberikan angka2 yang lebih akurat dari yang saya kutip ini: [syukur kalau bisa ada data serialnya – perkembangan jumlah penduduk DKI berdasarkan agama]

 Demografi:

 Suku bangsa: Jawa (35,16%), Betawi (27,65%), Sunda (15,27%), Tionghoa (5,53%), Batak (3,61%), Minang (3,18%), Melayu (1,62%), Lain-lain (7,98%)

 Agama: Islam (85,36%), Protestan (7,54%), Katolik (3,15%), Buddha (3,13%), Hindu (0,21%), Konghucu (0,06%)

 


 

Namun, mereka bukan hanya menguasai politik (kekuasaan) semacam Ahok, tapi mereka merambah ke wilayah lainnya, seperti ekonomi. Dengan menguasai ekonomi DKI Jakarta, dan Indonesia mereka menjadi penguasa yang sejati atas Indonesia.

Ahok hanyalah sebuah fenomena yang nampak di permukaan. Sejatinya jaringan ‘Chinese overseas’ (China perantauan) sudah sangat jauh. Mereka juga menguasai supra struktur negara. Tidak ada pejabat Indonesia yang tidak ‘netek’ (menyusu) kepada ‘taoke’ China.

Muslim Indonesia bukan hanya bangkrut secara aqidah, moral, dan poliitk, tapi juga sudah kehilangan nasionalisme mereka. Mereka hanya diberi uang ‘sogokan’ yang jumlahnya tidak seberapa jumlahnya, tapi sudah merelakan aqidah, moral, dan politik mereka di jajah.

Ø Ini pengakuan ya … bahwa pejabat Indonesia – termasuk mereka yang beragama Islam kan – adalah para penerima sogokan …

Ø Yang disogok itu kan pejabat ya …??? (termasuk yang beragama Islam)

 


 

Bangsa ini lupa, betapa konglomerat China menghabiskan uang rakyat, tak tanggung-tanggung jumlahnya Rp 650 tiliun. Dana BLBI yang sangat besar itu, hampir sebagian besar jatuh ke tangan konglomerat China. Sekarang Indonesia harus menanggung utang, yang menggerogoti kehidupan rakyat, akibat BLBI. Termasuk kasus Bank Century Rp 6,7 triliun.

Hanya sekarang yang terus ditonjolkan korupsi ‘recehan’ dari para politisi Islam. Sehingga, akhirnya Muslim bisa toleran terhadap orang seperti Ahok. Karena dianggap bersih.

Ø Ngelantur lagiii … apa kaitannya Ahok dengan dana BLBI???

 


 

Sebuah kesalahan sejarah yang sangat luar biasa, ini sebuah bencana bagi Muslim, dan akan berakibat buruk bagi masa depan mereka di Indonesia. Karena Muslim sudah kehilangan keyakinan agamanya (al-Islam), akibat gempuran opini yang terus-menerus oleh media ‘mainstream’ setiap hari, dan keyakinan Islam mereka menjadi hancur.

Dapatkah Muslim di DKI Jakarta bangkit dan menyelamatkan hari depan mereka, dibawah kekuasaan Ahok? Wallahu’alam.

Ø Gak tuh … keyakinan Islam yang mana yang hancurrr …???

Ø Muslim DKI justru sedang bangkit … gak bisa lagi dikibulin oleh politikus-politikus yang jualan isu-isu agama …

 

 

Rujukan : http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/11/20/33983/ahok-menjadi-gubernur-bukti-aqidah-moral-dan-politik-umat-islam-bangkrut/#sthash.F6s8zKs7.R2YhSJDo.dpbs

 

Ahok Menjadi Gubernur, Bukti Aqidah, Moral dan Politik Umat Islam Bangkrut - VOA-ISLAM.COM

Like & share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 × one =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>